← Kembali ke Katalog
Katalog/Anak & Remaja/Cerita Bergambar/SI MUSANG PENJAGA HUTAN Misi Menyelamatkan Rumah Para Hewan

SI MUSANG PENJAGA HUTAN Misi Menyelamatkan Rumah Para Hewan

Kategori: Cerita Bergambar | Dilihat: 5 Kali

Harga Saat Ini

Rp 5.000 Rp 10.000

Detail Produk

Kode Produk:PRD-ACDABEE8
Bahasa:Indonesia
Format:PDF
Penulis:Nabila Sari
Penerjemah:Ahmad Fauzan
Halaman:29 Halaman
Tahun Terbit:2026
Penerbit:Duta Ilmu Kids
Peringkat:4.9

Share:

Deskripsi

Di kedalaman Hutan Rimba Hijau, tempat di mana sinar matahari menembus celah dedaunan rimbun seperti benang emas, hiduplah seekor musang kecil bernama Mumo. Hutan itu adalah surga bagi ribuan makhluk hidup. Ada sungai jernih yang mengalir tenang, pohon-pohon raksasa yang sudah berdiri selama ratusan tahun, dan hamparan bunga liar yang mengeluarkan aroma manis setiap pagi. Mumo adalah musang yang lincah dengan kecerdasan di atas rata-rata hewan lainnya. Ia selalu mengenakan rompi kulit kayu yang unik dan membawa tas anyaman kecil di bahunya.

Suatu pagi yang tenang terusik oleh suara deru mesin yang memekakkan telinga. Burung-burung terbang berhamburan dari dahan pohon, dan kelinci-kelinci berlarian masuk ke dalam lubang tanah dengan gemetar. Mumo yang penasaran segera memanjat pohon beringin tertinggi untuk melihat apa yang terjadi. Dari kejauhan, ia melihat sekelompok manusia dengan truk besar dan gergaji mesin yang tajam sedang mendekati perbatasan hutan. Mereka membawa tanda-tanda merah yang disilangkan pada batang pohon besar, pertanda bahwa pohon-pohon itu akan segera ditebang.

Hati Mumo mencelos. Jika pohon-pohon itu hilang, rumah bagi burung, tupai, dan serangga akan musnah. Sungai akan menjadi kering, dan keindahan Rimba Hijau hanya akan tinggal kenangan. Mumo menyadari bahwa ia tidak bisa melawan mereka sendirian dengan kekuatan fisik. Ia membutuhkan sebuah rencana dan bantuan dari teman-temannya. Ia pun segera turun dan memanggil sahabat-sahabat terbaiknya: Pipit si burung pipit yang lincah, Tupit si tupai yang gesit, dan Gajah Guntur yang bijaksana.

Mereka berkumpul di bawah Pohon Kehidupan. Mumo menjelaskan situasi darurat yang sedang mengancam. Pipit menawarkan diri untuk menjadi mata-mata di udara, mengamati setiap pergerakan manusia tersebut. Tupit akan mengumpulkan buah-buah hutan yang lengket, sementara Guntur akan menggunakan suaranya yang menggelegar untuk menciptakan efek suara yang menakutkan. Mumo sendiri merancang strategi 'Hutan Berbisik', sebuah rencana untuk membuat para penebang liar merasa takut masuk lebih dalam ke hutan karena mengira hutan itu berhantu atau dijaga oleh kekuatan magis.

Keesokan harinya, ketika para penebang mulai bekerja, rencana Mumo mulai dijalankan. Saat para manusia itu mendekati pohon pertama, Pipit dan ribuan burung lainnya terbang rendah secara bersamaan, menciptakan angin kencang dan suara kepakan sayap yang riuh. Di saat yang sama, Tupit menjatuhkan buah-buah getah yang sangat lengket ke arah peralatan mereka, membuat gergaji mesin menjadi tersumbat dan tidak bisa menyala. Mumo menggunakan cermin-cermin dari batu kristal sungai untuk memantulkan cahaya matahari ke mata para penebang, membuat mereka kebingungan.

Puncaknya, Guntur si gajah mengeluarkan suara terompetnya dari balik semak-semak lebat, yang bergema seperti suara naga purba. Mumo juga telah menaburkan serbuk spora jamur berpendar di sekitar area tersebut, sehingga saat debu berterbangan, hutan tampak dipenuhi oleh cahaya-cahaya aneh yang menakutkan. Para penebang liar yang ketakutan itu mengira hutan tersebut memiliki pelindung gaib. Mereka segera meninggalkan peralatan mereka dan lari terbirit-birit menuju truk mereka, berjanji tidak akan pernah kembali lagi ke Hutan Rimba Hijau.

Kemenangan itu disambut dengan sorak-sorai oleh seluruh penghuni hutan. Mumo tidak merasa sombong, ia justru mengingatkan teman-temannya bahwa ini adalah kemenangan bersama. Namun, Mumo tahu bahwa ancaman bisa datang kembali kapan saja. Oleh karena itu, ia mengusulkan untuk membentuk 'Pasukan Penjaga Rimba'. Pasukan ini bertugas menanam kembali area yang sempat rusak dan menjaga kebersihan sungai. Mumo juga membuat pesan-pesan dari susunan batu dan kayu di perbatasan hutan yang terbaca sebagai peringatan bagi manusia untuk menghormati alam.

Sejak hari itu, Hutan Rimba Hijau menjadi lebih damai dari sebelumnya. Cerita tentang keberanian Mumo dan kawan-kawannya tersebar hingga ke telinga anak-anak di desa sekitar hutan melalui dongeng-dongeng yang dibawa oleh angin. Anak-anak desa kini justru menjadi pelindung hutan, mereka sering datang hanya untuk memberikan pupuk alami atau sekadar mengagumi keindahan tanpa merusak. Mumo sering terlihat duduk di dahan pohon beringin, memandang hutan yang asri dengan senyuman puas. Misi menyelamatkan rumah para hewan telah berhasil, namun tugas menjaga alam adalah perjalanan yang tidak akan pernah berakhir.