← Kembali ke Katalog
Katalog/Anak & Remaja/Cerita Bergambar/SI KANGGURU KECIL PENCARI BINTANG Perjalanan Menuju Mimpi

SI KANGGURU KECIL PENCARI BINTANG Perjalanan Menuju Mimpi

Kategori: Cerita Bergambar | Dilihat: 5 Kali

Harga Saat Ini

Rp 5.000 Rp 10.000

Detail Produk

Kode Produk:PRD-7F3947C9
Bahasa:Indonesia
Format:PDF
Penulis:Dimas Fauzan
Penerjemah:Nabila Azzahra
Halaman:29 Halaman
Tahun Terbit:2026
Penerbit:Duta Ilmu Kids
Peringkat:4.9

Share:

Deskripsi

Di sebuah tempat yang tersembunyi di balik perbukitan tinggi, terdapat sebuah desa yang dikenal dengan nama Lembah Bayang. Desa ini sangat indah, namun sayangnya, matahari hanya menyinari tempat itu sebentar saja setiap harinya. Sisanya, lembah itu tertutup oleh kabut tipis dan bayangan gunung yang menjulang. Di lembah inilah tinggal seekor kangguru kecil bernama Kiko. Kiko adalah kangguru yang ceria, namun ia memiliki kebiasaan yang berbeda dari kangguru lainnya. Setiap malam, saat kangguru lain mulai tertidur, Kiko akan duduk di atas batu besar, menengadah ke langit, dan menatap ribuan bintang yang bersinar terang.

Kiko sering merasa kasihan pada teman-temannya yang ketakutan saat malam yang gelap gulita menyelimuti lembah. 'Andai saja aku bisa membawa satu bintang turun ke sini,' pikir Kiko suatu malam. 'Cahayanya pasti akan cukup untuk menerangi seluruh lembah, sehingga tidak ada lagi teman yang merasa takut.' Keinginan itu tumbuh menjadi sebuah mimpi yang besar. Kiko memutuskan bahwa ia harus pergi ke Puncak Gunung Awan, gunung tertinggi yang puncaknya tampak menyentuh bintang-bintang di langit.

Keesokan paginya, dengan menggunakan rompi biru kesayangannya dan tas punggung hijau kecil berisi bekal ubi manis, Kiko berpamitan pada ibunya. Ibunya berpesan, 'Kiko, perjalanan itu jauh dan sulit. Namun, jika hatimu tulus, alam akan membantumu.' Kiko mengangguk mantap dan mulai melompat kecil meninggalkan desa. Perjalanan pertama membawanya masuk ke dalam Hutan Berbisik. Di hutan ini, pohon-pohonnya sangat tinggi dan daun-daunnya bisa mengeluarkan suara seperti bisikan manusia. Kiko sempat merasa takut ketika suara angin membuat hutan terasa angker. Namun, ia teringat tujuannya. Ia terus melompat dengan berani hingga bertemu dengan Pip, seekor tupai merah yang sedang kesulitan membawa kacang-kacangan. Kiko berhenti sejenak untuk membantu Pip, dan sebagai rasa terima kasih, Pip menunjukkan jalan pintas menuju lereng gunung.

Setelah melewati hutan, tantangan sesungguhnya dimulai. Kiko harus mendaki tebing bebatuan yang licin. Udara mulai terasa dingin, dan kakinya mulai terasa pegal. Di tengah jalan, Kiko hampir menyerah karena kabut tebal menghalangi pandangannya. 'Apakah aku bisa sampai ke sana? Aku hanyalah kangguru kecil,' bisiknya pada diri sendiri. Namun, tiba-tiba seekor burung hantu tua mendarat di dekatnya. Burung hantu itu berkata, 'Bukan besar kecilnya kaki yang membawamu ke puncak, melainkan besar kecilnya keyakinanmu.' Kata-kata itu membakar kembali semangat Kiko. Ia kembali melompat, satu per satu, dengan penuh kehati-hatian hingga akhirnya ia mencapai batas awan.

Ketika Kiko sampai di Puncak Gunung Awan, pemandangan di sana sangatlah menakjubkan. Awan-awan terasa lembut seperti kapas di bawah kakinya, dan bintang-bintang terasa sangat dekat, seolah ia bisa menyentuhnya hanya dengan merentangkan tangan. Namun, saat ia mencoba meraih sebuah bintang, tangannya hanya melewati cahaya. Bintang itu bukanlah benda padat yang bisa digenggam. Kiko merasa sedih sejenak. Namun, ia kemudian melihat sebuah bunga kristal yang tumbuh di puncak gunung. Bunga itu menyerap cahaya bintang dan bersinar sangat terang. Kiko menyadari bahwa inilah 'bintang' yang bisa ia bawa pulang.

Kiko memetik bunga kristal itu dengan lembut dan menyimpannya di dalam tasnya. Perjalanan pulang terasa lebih ringan karena hatinya dipenuhi kegembiraan. Saat ia sampai kembali di Lembah Bayang, hari sudah malam. Kiko mengeluarkan bunga kristal tersebut di tengah lapangan desa. Seketika, cahaya lembut berwarna keemasan menyebar ke seluruh penjuru desa, mengusir kegelapan dan memberikan kehangatan. Semua penduduk desa keluar dari rumah mereka dengan takjub. Mereka bersorak gembira menyambut Kiko sang pahlawan kecil. Kiko tersenyum lebar, menyadari bahwa meski ia kecil, ia telah berhasil melakukan hal yang luar biasa. Sejak saat itu, Lembah Bayang tidak lagi menjadi tempat yang gelap, dan Kiko selalu dikenal sebagai Sang Pencari Bintang yang telah membuktikan bahwa mimpi sebesar apa pun bisa dicapai dengan keberanian.