← Kembali ke Katalog
Katalog/Anak & Remaja/Cerita Bergambar/SANG PENYU BIJAK Nasihat dari Dasar Laut

SANG PENYU BIJAK Nasihat dari Dasar Laut

Kategori: Cerita Bergambar | Dilihat: 4 Kali

Harga Saat Ini

Rp 5.000 Rp 10.000

Detail Produk

Kode Produk:PRD-3D8FA0AC
Bahasa:Indonesia
Format:PDF
Penulis:Dimas Mahardika
Penerjemah:Budi Wijaya
Halaman:29 Halaman
Tahun Terbit:2026
Penerbit:Duta Ilmu Kids
Peringkat:4.9

Share:

Deskripsi

Jauh di kedalaman Samudra Biru yang jernih, terdapat sebuah tempat yang dikenal sebagai Terumbu Karang Pelangi. Sesuai namanya, tempat ini adalah rumah bagi ribuan makhluk laut dengan warna-warna yang sangat memukau mata. Di antara celah-celah karang yang megah, hiduplah seorang tetua yang sangat dihormati oleh seluruh penghuni lautan. Beliau adalah Kakek Kura, seekor penyu hijau yang telah melintasi tujuh samudra selama lebih dari seratus tahun. Kebijaksanaannya terpancar dari matanya yang teduh, dan setiap kata yang diucapkannya selalu menjadi penyejuk bagi siapa pun yang sedang dalam masalah.

Suatu pagi yang cerah, ketika cahaya matahari menembus permukaan air dan menciptakan pola-pola emas di dasar laut, suasana di Terumbu Karang Pelangi mendadak riuh. Dua ekor ikan muda, Finny si Ikan Badut yang lincah dan Bubbles si Ikan Botana yang ceria, sedang bertengkar hebat. Mereka berebut sebuah celah karang yang penuh dengan ganggang hijau lezat. Suara mereka yang melengking membuat ikan-ikan lain merasa terganggu, hingga akhirnya berita tentang pertengkaran itu sampai ke telinga Kakek Kura yang sedang beristirahat di depan gua karangnya yang tenang.

Dengan gerakan yang lambat namun pasti, Kakek Kura berenang mendekati mereka. Kehadirannya seketika membuat suasana menjadi hening. 'Anak-anakku, mengapa kalian membuang energi berharga hanya untuk memperebutkan sesuatu yang telah disediakan alam dengan melimpah?' tanya Kakek Kura dengan suara berat yang menenangkan. Finny dan Bubbles tertunduk malu, mereka menjelaskan bahwa masing-masing merasa paling berhak atas wilayah itu. Kakek Kura tersenyum kecil, lalu ia mengajak mereka melihat lebih dekat ke dasar karang tersebut. Ternyata, di antara ganggang yang mereka perebutkan, terselip beberapa lembar plastik transparan yang tajam dan berbahaya.

'Lihatlah ini,' lanjut Kakek Kura sambil menunjuk plastik tersebut dengan sirip depannya yang kuat. 'Kalian sibuk bertengkar tentang siapa yang boleh makan di sini, sementara bahaya besar sedang mengintai rumah kalian. Plastik ini bukan berasal dari laut kita. Ini adalah benda asing yang dibawa arus dari daratan. Jika kalian terus bertengkar, kalian tidak akan sempat melihat bahwa rumah kita tercemar.' Mendengar itu, Finny dan Bubbles merasa sangat bersalah. Mereka baru menyadari bahwa selama mereka berdebat, arus telah membawa lebih banyak lagi benda aneh serupa plastik dan jaring yang tersangkut di terumbu karang kesayangan mereka.

Kakek Kura kemudian menceritakan sejarah laut di masa lalu, di mana kejernihan air adalah segalanya dan kerja sama antar penghuni laut adalah kunci keselamatan. Ia menjelaskan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada siapa yang paling kuat atau siapa yang menguasai wilayah terbanyak, melainkan pada siapa yang mampu menjaga harmoni dan kebersihan lingkungan bersama. Terumbu Karang Pelangi tidak akan indah jika hanya ada satu jenis ikan, dan ia akan hancur jika semua penghuninya hanya memikirkan diri mereka sendiri tanpa peduli pada sampah-sampah yang merusak karang.

Terinspirasi oleh kata-kata bijak sang penyu, Finny dan Bubbles akhirnya berdamai. Namun, tugas mereka belum selesai. Kakek Kura memimpin sebuah gerakan besar yang melibatkan seluruh warga laut. Mereka mulai bekerja sama membersihkan Terumbu Karang Pelangi dari sampah plastik. Ikan-ikan kecil mengumpulkan serpihan kecil, sementara kepiting menggunakan capit mereka untuk memotong jaring-jaring yang melilit karang. Kakek Kura sendiri memandu mereka untuk meletakkan sampah-sampah itu di area arus tenang agar bisa diambil oleh manusia yang peduli lingkungan.

Berhari-hari mereka bekerja dengan penuh semangat. Tidak ada lagi pertengkaran, yang ada hanyalah tawa dan kerja keras kolektif. Kakek Kura terus memberikan semangat dan nasihat di sela-sela kegiatan mereka. Ia mengajarkan tentang kesabaran, karena membersihkan laut tidak bisa dilakukan dalam sekejap. Ia juga mengajarkan tentang kepemimpinan, bahwa seorang pemimpin yang baik adalah ia yang memberi teladan dengan tindakan, bukan hanya dengan perintah. Perubahan besar mulai terlihat, air kembali bening, dan warna-warni terumbu karang kembali memancarkan cahayanya yang paling cerah.

Di akhir cerita, saat matahari mulai terbenam di ufuk barat dan cahayanya berubah menjadi jingga kemerahan, seluruh penghuni laut berkumpul di sekitar Kakek Kura. Mereka merasa lebih dari sekadar tetangga; mereka merasa seperti keluarga besar. Kakek Kura memandang mereka dengan bangga. Ia tahu bahwa meskipun ia suatu saat nanti akan pergi, kebijaksanaan dan semangat menjaga alam akan terus hidup dalam diri ikan-ikan muda tersebut. 'Ingatlah selalu,' bisik Kakek Kura sebelum ia memejamkan mata untuk beristirahat, 'bahwa laut adalah titipan, dan tugas kita adalah memastikan kecantikannya tetap ada untuk generasi yang akan datang.'