← Kembali ke Katalog
Katalog/Anak & Remaja/Cerita Bergambar/MILO DAN PETA LANGIT Kisah Sang Elang Menuju Negeri Atas Awan

MILO DAN PETA LANGIT Kisah Sang Elang Menuju Negeri Atas Awan

Kategori: Cerita Bergambar | Dilihat: 47 Kali

Harga Saat Ini

Rp 5.000 Rp 10.000

Detail Produk

Kode Produk:PRD-DC21A639
Bahasa:Indonesia
Format:PDF
Penulis:Lestari Putri
Penerjemah:Andi Fauzan
Halaman:29 Halaman
Tahun Terbit:2026
Penerbit:Duta Ilmu Kids
Peringkat:4.9

Share:

Deskripsi

Di puncak tertinggi pegunungan yang disebut Puncak Cakrawala, tinggallah seekor elang muda bernama Milo. Milo bukanlah elang biasa; meskipun sayapnya belum selebar elang dewasa lainnya, ia memiliki semangat yang jauh lebih besar dari siapapun. Ia tinggal bersama kakeknya, seorang elang tua yang bijaksana yang dahulu merupakan penjelajah hebat. Namun, musim dingin kali ini terasa berbeda. Kakek Milo jatuh sakit parah. Tabib hutan mengatakan bahwa hanya ada satu cara untuk menyembuhkannya, yaitu dengan sari pati Bunga Perak yang hanya tumbuh di Negeri Atas Awan—sebuah tempat yang dianggap mitos oleh sebagian besar penghuni gunung.

Suatu sore, saat Milo sedang membersihkan loteng sarang kakeknya, ia menemukan sebuah kotak kayu tua yang tersembunyi di bawah tumpukan jerami kering. Di dalamnya, tersimpan sebuah gulungan perkamen yang memancarkan cahaya keemasan redup. Itulah Peta Langit. Peta tersebut tidak menunjukkan jalan di tanah, melainkan pola-pola angin dan rasi bintang yang membentuk jalur menuju langit tertinggi. Dengan tekad yang bulat dan hanya berbekal sebuah syal merah pemberian ibunya serta tas selempang kecil untuk menyimpan peta, Milo memutuskan untuk pergi. Ia tahu perjalanan ini akan sangat berbahaya, tetapi cintanya kepada sang kakek mengalahkan rasa takutnya.

Perjalanan dimulai saat fajar menyingsing. Milo mengepakkan sayapnya sekuat tenaga, mendaki udara dingin yang menusuk. Rintangan pertama yang harus ia hadapi adalah Hutan Kabut Putih. Kabut di sana begitu tebal sehingga Milo tidak bisa melihat ujung sayapnya sendiri. Di tengah kegelapan kabut, ia bertemu dengan Pipit, seekor burung kecil yang tersesat. Alih-alih mengabaikannya, Milo membantu Pipit menemukan jalan keluar. Sebagai balas budi, Pipit yang memiliki pendengaran tajam membantu Milo mendeteksi arah angin yang benar agar mereka tidak menabrak tebing batu yang tersembunyi di balik kabut. Kebersamaan mereka membuktikan bahwa dalam perjalanan sesulit apa pun, sahabat adalah kekuatan terbesar.

Setelah berhasil melewati kabut, tantangan berikutnya jauh lebih besar: Wilayah Awan Petir. Langit yang tadinya biru berubah menjadi kelabu gelap. Guntur menggelegar dan kilatan petir menyambar-nyambar di sekeliling Milo. Angin kencang menghempaskannya ke sana kemari. Milo hampir saja menyerah ketika sebuah hembusan angin dingin membuatnya terjatuh. Namun, ia teringat wajah kakeknya yang sedang menunggu di rumah. Ia membuka Peta Langit, dan anehnya, peta itu bersinar lebih terang, menunjukkan sebuah lubang kecil di tengah badai—jalur tenang yang disebut 'Mata Angin'. Dengan keberanian yang tersisa, Milo meluncur masuk ke jalur tersebut dan berhasil lolos dari murka badai.

Akhirnya, Milo mencapai sebuah lapisan awan yang berbeda dari yang pernah ia lihat. Awan-awan di sini berwarna-warni seperti pelangi dan terasa padat seperti hamparan kapas lembut. Inilah Negeri Atas Awan. Di tengah negeri itu, terdapat sebuah pohon besar yang terbuat dari kristal cahaya, dan di bawahnya tumbuh Bunga Perak yang legendaris. Namun, bunga itu dijaga oleh Sang Penjaga Angit, seekor Merak Awan yang memiliki ekor sepanjang awan cirrus. Sang Penjaga bertanya kepada Milo mengapa ia berani datang sejauh itu. Milo menceritakan tentang kakeknya dan bagaimana ia belajar tentang arti persahabatan dan ketekunan selama di perjalanan.

Terkesan dengan ketulusan hati Milo, Sang Penjaga memberikan sekuntum Bunga Perak. Ia juga memberikan hadiah tambahan: sebuah kemampuan untuk memanggil angin barat agar Milo bisa pulang dengan lebih cepat. Milo terbang turun dengan kecepatan tinggi, melintasi rintangan-rintangan yang tadi ia lalui dengan penuh kemudahan karena hatinya kini penuh dengan harapan. Sesampainya di Puncak Cakrawala, Milo segera memberikan bunga tersebut kepada tabib. Keajaiban terjadi; segera setelah aroma bunga itu memenuhi ruangan, Kakek Milo perlahan-lahan membuka matanya dan mendapatkan kembali kekuatannya.

Kisah Milo dan Peta Langit pun menjadi legenda di seluruh Puncak Cakrawala. Milo kini bukan lagi sekadar elang kecil yang bersemangat, melainkan seorang pahlawan yang mengajarkan kepada semua orang bahwa ukuran tubuh tidak menentukan besarnya keberanian. Selama seseorang memiliki tujuan yang mulia dan hati yang tulus, langit pun bukan lagi menjadi batas bagi mimpi-mimpinya. Milo terus terbang setiap hari, menjaga langit tetap aman, dan selalu siap untuk petualangan berikutnya bersama teman-teman barunya.