← Kembali ke Katalog
Katalog/Anak & Remaja/Cerita Bergambar/KISAH SI KATAK YANG INGIN TERBANG Percaya pada Kemampuan Diri

KISAH SI KATAK YANG INGIN TERBANG Percaya pada Kemampuan Diri

Kategori: Cerita Bergambar | Dilihat: 4 Kali

Harga Saat Ini

Rp 5.000 Rp 10.000

Detail Produk

Kode Produk:PRD-41B98840
Bahasa:Indonesia
Format:PDF
Penulis:Nabila Putri
Penerjemah:Agus Kusuma
Halaman:29 Halaman
Tahun Terbit:2026
Penerbit:Duta Ilmu Kids
Peringkat:4.9

Share:

Deskripsi

Di tepi Rawa Biru yang selalu berkabut tipis saat pagi hari, hiduplah seekor katak kecil bernama Kiko. Kiko bukan katak biasa; sementara teman-temannya sibuk berlomba menangkap lalat atau sekadar berjemur di atas daun teratai, Kiko seringkali terlihat menatap ke atas. Ia memperhatikan burung-burung yang melesat bebas di angkasa, membelah awan dengan sayap mereka yang perkasa. Bagi Kiko, tidak ada yang lebih indah daripada bisa terbang dan melihat dunia dari ketinggian.

Keinginan Kiko begitu kuat sehingga ia mulai mencoba berbagai eksperimen. Pertama, ia mengumpulkan daun-daun jati yang kering dan mengikatnya ke kedua tangannya dengan bantuan akar tanaman yang elastis. Dengan penuh percaya diri, ia naik ke atas batu besar dan mengepak-ngepakkan tangan daunnya. Kiko melompat sekuat tenaga, berharap angin akan mengangkatnya. Namun, bukannya melayang, ia justru jatuh tercebur ke dalam air dengan suara 'plung' yang keras, membuat teman-temannya tertawa geli. Kiko merasa malu, tapi ia tidak menyerah.

Esok harinya, Kiko mencoba strategi baru. Ia meminta bantuan Pipit, seekor burung pipit yang ramah. Pipit setuju untuk membantu dengan membiarkan Kiko berpegangan pada kakinya saat ia terbang. Saat Pipit mulai mengepakkan sayap dan naik ke udara, Kiko merasa sangat bahagia. Ia bisa melihat rawa dari atas! Namun, rasa bahagia itu hanya sebentar. Pegangan Kiko pada kaki Pipit mulai melemah karena tangannya yang licin. Akhirnya, Kiko terlepas dan jatuh berguling-guling di atas semak-semak yang empuk. Pipit segera turun untuk menolongnya, merasa bersalah karena telah membawa Kiko terbang terlalu tinggi.

Dalam keadaan sedikit lemas, Kiko duduk di bawah pohon willow besar. Di sana ia bertemu dengan Kakek Kura, seekor kura-kura tua yang bijaksana. Kakek Kura mendengarkan keluh kesah Kiko tentang keinginannya yang mustahil untuk terbang. Kakek Kura kemudian tersenyum dan berkata, 'Kiko, mengapa kamu begitu ingin menjadi burung sedangkan kamu adalah katak yang hebat? Burung terbang dengan sayap, tapi katak terbang dengan kekuatan kakinya.' Kiko mengernyitkan dahi, tidak mengerti maksud perkataan Kakek Kura.

Tiba-tiba, terdengar suara minta tolong. Ternyata Pipit terjepit di sela-sela ranting pohon berduri yang tinggi karena mencoba mengambil buah untuk Kiko. Ranting itu terlalu rapat bagi Pipit untuk mengepakkan sayapnya. Tanpa berpikir panjang, Kiko menggunakan seluruh kekuatan otot kakinya yang kuat. Ia melakukan lompatan yang luar biasa tinggi—lompatan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Kiko melenting seperti pegas, mencapai dahan tinggi itu dalam sekejap, dan dengan kelincahannya, ia membantu membebaskan Pipit.

Saat mereka berdua mendarat dengan selamat di tanah, Pipit sangat berterima kasih. 'Wah, Kiko! Lompatanmu tadi benar-benar seperti terbang! Kamu sangat cepat dan akurat!' puji Pipit. Kiko tertegun. Ia baru menyadari bahwa meskipun ia tidak memiliki sayap, ia memiliki kemampuan luar biasa yang tidak dimiliki oleh burung. Kemampuannya melompat tinggi dan menempel di berbagai permukaan adalah anugerah yang unik.

Sejak hari itu, Kiko tidak lagi sibuk mencari cara untuk terbang dengan sayap. Ia terus melatih lompatannya hingga ia dikenal sebagai katak tercepat dan pelompat tertinggi di Rawa Biru. Kiko menyadari bahwa menjadi diri sendiri adalah hal yang paling luar biasa. Ia tetap mencintai langit, tetapi ia kini juga mencintai kakinya yang kuat dan kulit hijaunya yang lembap. Kiko telah menemukan bahwa kebahagiaan sejati dimulai ketika kita berhenti ingin menjadi orang lain dan mulai mencintai siapa diri kita sebenarnya.