← Kembali ke Katalog
Katalog/Anak & Remaja/Cerita Bergambar/KISAH SI BURUNG KECIL YANG TIDAK MENYERAH Terbang Lebih Tinggi dari Ketakutan

KISAH SI BURUNG KECIL YANG TIDAK MENYERAH Terbang Lebih Tinggi dari Ketakutan

Kategori: Cerita Bergambar | Dilihat: 9 Kali

Harga Saat Ini

Rp 5.000 Rp 10.000

Detail Produk

Kode Produk:PRD-B61C2B15
Bahasa:Indonesia
Format:PDF
Penulis:Andi Santoso
Penerjemah:Dimas Mahardika
Halaman:29 Halaman
Tahun Terbit:2026
Penerbit:Duta Ilmu Kids
Peringkat:4.9

Share:

Deskripsi

Di jantung Lembah Hijau yang selalu diselimuti kabut pagi berwarna merah muda, tinggallah Pipit. Pipit bukanlah burung pipit biasa; ia lahir dengan sayap kiri yang sedikit lebih pendek dan melengkung dibandingkan sayap kanannya. Karena keterbatasan fisik ini, Pipit tumbuh menjadi burung yang pemalu. Ia lebih sering menghabiskan waktunya melompat-lompat di antara semak buah beri daripada terbang tinggi bersama kakak-kakaknya di angkasa luas yang biru. Setiap kali ia mencoba terbang lebih tinggi dari dahan pohon apel, jantungnya berdegup kencang karena rasa takut yang luar biasa.

Suatu hari, suasana di Lembah Hijau berubah mencekam. Langit yang biasanya cerah tiba-tiba berubah menjadi abu-abu gelap, hampir hitam. Angin mulai bersiul dengan nada yang menakutkan, dan guntur menggelegar di kejauhan. Ayah Pipit, sang pemimpin kawanan, memberikan perintah agar semua burung segera mengungsi ke Goa Batu di balik Tebing Tinggi. Namun, malapetaka terjadi. Adik-adik Pipit yang masih kecil terjebak di dalam sarang yang berada di puncak Pohon Oak Tua yang rapuh. Angin kencang membuat burung-burung dewasa kesulitan mendekat karena sayap lebar mereka justru menjadi bumerang saat dihantam badai.

Pipit melihat pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. Kakak-kakaknya yang gagah terlihat kewalahan melawan arus angin. Di sinilah Pipit menyadari sesuatu yang penting. Tubuhnya yang mungil dan sayapnya yang pendek justru membuatnya lebih lincah dan tidak terlalu terpengaruh oleh tarikan angin besar. Meskipun ketakutan setengah mati, Pipit meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia harus mencoba. 'Aku mungkin kecil, tapi keberanianku tidak boleh kerdil,' bisiknya dalam hati. Dengan sekali kepakan yang penuh tenaga, ia meluncur ke arah Pohon Oak Tua.

Perjalanan menuju puncak pohon itu terasa seperti ribuan kilometer. Hujan mulai turun dengan deras, membasahi bulu-bulunya hingga terasa berat. Setiap kali petir menyambar, Pipit ingin sekali berbalik dan bersembunyi. Namun, suara tangisan adik-adiknya memberinya kekuatan baru. Ia belajar memanfaatkan celah-celah angin, berputar dan menukik dengan presisi yang tidak dimiliki burung lain. Ketika ia sampai di sarang, ia melihat dahan pohon itu mulai retak. Dengan cepat, Pipit mengarahkan adik-adiknya untuk berpegangan pada ranting yang lebih kuat dan membimbing mereka satu per satu keluar dari sana tepat sebelum dahan itu patah dan jatuh ke sungai di bawahnya.

Keberhasilan Pipit menyelamatkan adik-adiknya menjadi buah bibir di seluruh Lembah Hijau. Pipit kini tidak lagi dikenal sebagai burung dengan sayap lemah, melainkan sebagai 'Pahlawan Langit Kecil'. Ia menyadari bahwa kekurangan fisiknya bukanlah penghalang, melainkan keunikan yang memberinya kekuatan berbeda. Kini, Pipit tidak lagi takut pada ketinggian. Ia sering terlihat terbang paling tinggi di antara awan, membuktikan bahwa siapa pun bisa terbang tinggi asalkan memiliki tekad yang kuat. Kisah Pipit mengajarkan kita bahwa ketakutan hanyalah sebuah awan yang bisa kita tembus jika kita terus mengepakkan sayap dengan penuh keyakinan.

#BukuAnak #DongengInspiratif #CeritaBurung #PesanMoral #PetualanganAnak