← Kembali ke Katalog
Katalog/Anak & Remaja/DOMBA KERITING YANG SUKA BERCANDA Kisah Lucu Di Padang Rumput

DOMBA KERITING YANG SUKA BERCANDA Kisah Lucu Di Padang Rumput

Kategori: Anak & Remaja, Cerita Bergambar | Dilihat: 122 Kali

Harga Saat Ini

Rp 5.000 Rp 10.000

Detail Produk

Kode Produk:PRD-2E2467B0
Bahasa:Indonesia
Format:PDF
Penulis:Dimas Fauzan
Penerjemah:Agus Santoso
Halaman:32 Halaman
Tahun Terbit:2026
Penerbit:Duta Ilmu Kids
Peringkat:4.9

Share:

Deskripsi

Padang Rumput Hijau adalah tempat paling indah di dunia. Matahari bersinar cerah, rumputnya selalu segar dan empuk seperti karpet hijau, dan bunga-bunga liar bermekaran dengan warna-warni yang memukau. Di sinilah tinggal sekawanan domba yang bahagia, dipimpin oleh Pak Domba Penatua yang bijaksana. Dari semua domba di sana, ada satu yang paling menonjol dengan bulu keritingnya yang seputih awan dan tingkah polahnya yang luar biasa ceria. Namanya Fikri. Fikri bukan domba biasa. Sejak kecil, ia sudah dikenal sebagai domba yang paling suka bercanda. Setiap hari, ia punya ide baru untuk membuat teman-temannya tertawa, atau setidaknya terkejut.

Teman-teman terbaik Fikri adalah Lala, domba betina yang lembut dan selalu sabar, serta Kiki, domba jantan yang sedikit pemarah namun berhati baik. Lala seringkali hanya tersenyum melihat tingkah Fikri, sementara Kiki akan menggerutu jika candaan Fikri mengganggunya. Contohnya, suatu pagi Fikri pura-pura tersangkut di semak-semak, berteriak minta tolong. Saat Lala dan Kiki bergegas menghampiri dengan panik, Fikri malah melompat keluar dengan tawa terbahak-bahak, "Hahaha! Kena kalian! Wajah panik kalian lucu sekali!" Lala hanya bisa menggelengkan kepala, sementara Kiki menghela napas panjang. "Fikri, kau ini ada-ada saja!" keluh Kiki, meski sedikit senyum akhirnya muncul di wajahnya.

Candaan Fikri bermacam-macam. Kadang ia menyembunyikan apel kesukaan Kiki lalu berpura-pura tidak tahu apa-apa. Kadang ia meniru suara Pak Domba Penatua dengan gaya yang konyol, membuat semua domba muda cekikikan. Pernah juga ia diam-diam menaruh bunga di atas kepala Lala saat Lala sedang tidur siang, membuat Lala terbangun dengan mahkota bunga yang indah namun membuatnya sedikit malu. Sebagian besar domba merasa terhibur dengan tingkah Fikri. Mereka tahu Fikri tidak bermaksud jahat, hanya saja Fikri punya cara sendiri untuk mengekspresikan keceriaannya. Namun, ada kalanya candaan Fikri melewati batas, membuat teman-temannya benar-benar kesal dan jengkel.

Suatu hari, Fikri punya ide yang sedikit lebih "nakal". Ia tahu bahwa Pak Domba Penatua sangat ketat soal waktu makan siang. Jadi, Fikri berencana untuk memalsukan suara Pak Domba Penatua dan mengumumkan waktu makan siang lebih awal. "Domba-domba sekalian! Waktunya makan siang! Ayo cepat berkumpul di pohon apel!" Fikri berteriak menirukan suara Pak Domba Penatua dengan mimik wajah yang lucu. Semua domba yang lapar langsung bergegas ke pohon apel. Namun, saat mereka sampai di sana, Pak Domba Penatua yang asli sedang tertidur pulas di bawah pohon, dan waktu makan siang masih satu jam lagi. Para domba muda pun kecewa. Lala dan Kiki menatap Fikri dengan tatapan tidak senang. "Fikri, ini tidak lucu," kata Lala lembut. "Kami semua lapar, dan kau membuat kami berharap palsu." Kiki menambahkan, "Kau harusnya tidak bercanda soal makanan, Fikri! Itu penting!" Fikri merasa bersalah. Ia tidak menyangka candaannya akan membuat teman-temannya kecewa.

Malam itu, Fikri merenung di bawah cahaya bulan. Ia memikirkan kata-kata Lala dan Kiki. Mungkin ia memang terlalu sering bercanda tanpa memikirkan perasaan orang lain. Ia menyadari bahwa tawa memang menyenangkan, tapi tidak semua situasi cocok untuk bercanda. Ada saatnya untuk serius, ada saatnya untuk menghargai perasaan teman. Fikri berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih berhati-hati dengan candaannya, meski ia tidak bisa berhenti bercanda sepenuhnya. Itu sudah menjadi bagian dari dirinya.

Beberapa hari kemudian, ketenangan Padang Rumput Hijau terusik. Sebuah bayangan gelap sering terlihat mengendap-endap di pinggir hutan yang berbatasan dengan padang. Itu adalah Serigala Buas, yang terkenal licik dan berbahaya. Pak Domba Penatua sudah memperingatkan semua domba untuk selalu waspada. "Jangan bermain terlalu jauh dari kawanan, dan jika melihat sesuatu yang mencurigakan, segera beritahu kami!" perintah Pak Domba Penatua. Semua domba pun menjadi lebih hati-hati. Tapi Serigala Buas ini sangat cerdik. Ia selalu muncul saat domba-domba sedang lengah.

Suatu sore, saat matahari mulai condong ke barat, kawanan domba sedang asyik merumput di dekat pinggir hutan. Fikri, yang sedang bermain petak umpet dengan domba-domba kecil, tiba-tiba melihat sepasang mata merah menyala dari balik semak belukar. Itu adalah Serigala Buas! Serigala itu bersiap menerkam domba-domba yang sedang makan di dekatnya. Fikri panik, tapi ia tahu jika ia berteriak biasa, mungkin tidak ada yang percaya. Mengingat reputasinya sebagai domba yang suka bercanda, teriakannya bisa dianggap sebagai lelucon belaka.

Dalam sepersekian detik, Fikri memutar otak. Ia tahu ia harus menarik perhatian semua orang, dan itu harus dengan cara yang tidak bisa diabaikan. Ia teringat semua candaannya yang konyol, semua teriakan pura-pura yang pernah ia lakukan. Fikri menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak dengan suara paling lantang dan paling aneh yang pernah ia keluarkan. Ia berteriak sambil melompat-lompat dengan gaya yang paling konyol, seolah-olah sedang menari kegirangan. "WOHOOO! ADA SERIGALA YANG PUNYA BULU KERITING SEPERTI AKU! DIA MAU DIAJAK BERGOYANG BERSAMAKU!" teriak Fikri, dengan intonasi yang biasanya ia gunakan saat membuat lelucon paling heboh.

Teriakan Fikri yang melengking dan tingkah lucunya menarik perhatian semua domba. Mereka semua menoleh ke arah Fikri, bertanya-tanya candaan apa lagi yang sedang ia lakukan. Bahkan Serigala Buas pun sempat tertegun sesaat, bingung dengan tingkah domba keriting itu. Pak Domba Penatua dan domba-domba dewasa yang lain langsung mendekat, berpikir Fikri sedang membuat kekacauan. "Fikri, ada apa lagi ini?" tanya Pak Domba Penatua dengan nada lelah. "Kau tidak bisa bercanda terus-menerus!"

Namun, karena Fikri terus menunjuk ke arah semak-semak dengan wajah serius (walaupun ia tetap melompat-lompat kecil), Pak Domba Penatua akhirnya mengikuti arah pandang Fikri. Dan benar saja, di balik semak-semak itu, sepasang mata merah Serigala Buas terlihat jelas! Serigala itu, yang terkejut karena kedoknya terbongkar oleh tingkah aneh Fikri, langsung melarikan diri dengan cepat ke dalam hutan. Ia tidak menyangka ada domba yang akan "memperingatkan" dengan cara sekonyol itu. Karena teriakan Fikri yang heboh, semua domba tidak lagi lengah dan Serigala itu tidak berhasil mendekat.

Semua domba tercengang. Mereka tidak percaya. Candaan Fikri, yang sering membuat mereka kesal, justru menyelamatkan mereka dari bahaya besar. Lala memeluk Fikri erat. "Fikri, kau menyelamatkan kami!" katanya terharu. Kiki menepuk punggung Fikri dengan bangga. "Ternyata suaramu yang melengking itu ada gunanya juga, teman!" Pak Domba Penatua tersenyum bijaksana. "Fikri, kau memang domba yang unik. Hari ini, candaanmu bukan hanya membuat kami tertawa, tapi juga menyelamatkan nyawa."

Sejak hari itu, Fikri tidak berhenti bercanda. Tapi ia menjadi lebih bijaksana. Ia belajar bahwa setiap orang punya cara unik untuk menjadi pahlawan. Candaan bisa jadi kekuatan, asal tahu waktu dan tempatnya. Fikri tetap menjadi domba keriting yang paling ceria, tapi kini teman-temannya melihatnya dengan rasa hormat dan sayang yang lebih besar. Mereka tahu, di balik setiap tawa yang Fikri ciptakan, ada hati yang baik dan keberanian yang siap muncul kapan saja dibutuhkan. Padang Rumput Hijau kembali damai, dan tawa Fikri yang riang selalu mengisi udara, kini dengan sedikit lebih banyak makna dan kebijaksanaan.

#DombaBercanda #KisahLucuAnak #PetualanganFikri #PesanMoralAnak #DutaIlmuKids