← Kembali ke Katalog
Katalog/Cerita Bergambar/RUBAH MENGEJAR KUMBANG MERAH Kejar Kejaran Sampai Lupa Pulang

RUBAH MENGEJAR KUMBANG MERAH Kejar Kejaran Sampai Lupa Pulang

Kategori: Cerita Bergambar | Dilihat: 0 Kali

Harga Saat Ini

Rp 5.000 Rp 10.00050%

Detail Produk

Kode Produk:PRD-B99F9A84
Bahasa:Indonesia
Format:PDF
Penulis:Ahmad Kusuma
Halaman:29 Halaman
Tahun Terbit:2026
Penerbit:Duta Ilmu Kids
Peringkat:4.90

Share:

Deskripsi

Di sebuah sudut hutan yang dikenal sebagai Hutan Berbisik, tinggallah seekor rubah kecil bernama Rumi. Rumi adalah rubah yang memiliki bulu oranye kemerahan yang sangat cerah, dengan ujung ekor berwarna putih bersih seperti kapas. Setiap pagi, Rumi selalu diingatkan oleh ibunya untuk tidak bermain terlalu jauh melewati batas pohon ek tua yang besar. Namun, Rumi adalah rubah yang penuh dengan rasa ingin tahu. Baginya, setiap sudut hutan adalah lembaran buku cerita yang belum dibaca.

Suatu pagi yang cerah, saat embun masih menggelantung di ujung daun, Rumi melihat sesuatu yang tidak biasa. Seekor kumbang merah dengan bintik-bintik emas di punggungnya terbang rendah di depan hidungnya. Kumbang itu tampak bercahaya, seolah-olah membawa serpihan sinar matahari. Tanpa berpikir panjang, Rumi mulai mengikuti kumbang tersebut. Awalnya, ia hanya berjalan santai, namun sang kumbang terbang semakin cepat, masuk ke dalam semak-semak yang lebih rimbun.

'Tunggu aku, Kumbang Cantik!' seru Rumi sambil melompat melewati akar pohon yang melilit. Kumbang itu seolah-olah mengajak Rumi bermain petak umpet. Ia akan hinggap sebentar di bunga daisy, lalu terbang lagi saat Rumi mendekat. Rumi tertawa kegirangan, ia melompati sungai kecil yang jernih dengan sekali lompatan hebat. Ia tidak menyadari bahwa suara aliran sungai itu perlahan menghilang, digantikan oleh kesunyian hutan yang lebih dalam. Rumi terus berlari, melewati Lembah Kabut yang selalu tertutup awan tipis, hingga sampai ke area yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Langkah kaki Rumi membawanya ke sebuah padang bunga yang aromanya sangat memabukkan. Di sana, kumbang merah itu terbang berputar-putar di atas kepala Rumi sebelum akhirnya menghilang di balik pepohonan raksasa yang batangnya ditutupi lumut tebal. Rumi berhenti sejenak untuk mengatur napasnya. Saat itulah ia menyadari sesuatu yang menakutkan. Cahaya matahari yang tadinya terang benderang kini mulai memudar, berubah menjadi warna ungu keemasan yang menandakan senja telah tiba. Angin dingin mulai berhembus, menggoyangkan dahan-dahan pohon yang kini tampak seperti tangan-tangan raksasa.

Rumi menoleh ke belakang, mencoba mencari jejak kakinya atau suara ibunya yang biasanya memanggil untuk makan malam. Namun, yang terdengar hanyalah suara burung hantu yang mulai bangun dan gesekan daun-daun kering. Rumi mulai merasa takut. Ia teringat pesan ibunya untuk tidak pernah melewati pohon ek tua. Sekarang, ia bahkan tidak tahu di mana pohon ek itu berada. Air mata mulai menggenang di matanya yang besar. Ia merasa sangat sendirian di tengah hutan yang luas ini.

Namun, di tengah keputusasaannya, Rumi melihat cahaya kecil di kejauhan. Bukan cahaya kumbang merah, melainkan cahaya kunang-kunang yang mulai bermunculan. Ia teringat nasihat ayahnya, bahwa jika tersesat, ia harus mengikuti aliran air atau mencari tanda-tanda alam yang dikenalnya. Rumi mulai berjalan perlahan, mencoba mempertajam indra penciumannya. Ia mencium aroma bunga lavender, aroma yang sama dengan yang tumbuh di dekat liangnya. Dengan penuh keberanian, Rumi melangkah menembus kegelapan, mengikuti insting dan aroma tersebut.

Setelah berjalan cukup lama dengan kaki yang mulai lelah, Rumi akhirnya melihat bayangan pohon ek tua yang agung di bawah sinar rembulan. Hatinya melonjak gembira. Dari kejauhan, ia mendengar suara lembut yang sangat ia kenali. Itu adalah suara ibunya yang memanggil namanya dengan nada cemas. Rumi berlari sekuat tenaga dan langsung menghambur ke pelukan ibunya yang hangat. Ia berjanji dalam hati bahwa ia akan selalu mendengarkan nasihat orang tuanya dan tidak akan membiarkan rasa penasarannya membuatnya melupakan jalan pulang lagi.

Malam itu, di dalam liang yang nyaman, Rumi tertidur lelap. Ia bermimpi tentang kumbang merah, namun kali ini, di dalam mimpinya, ia hanya melihat kumbang itu dari kejauhan sambil tetap memegang tangan ibunya dengan erat. Petualangan hari itu memberinya pelajaran berharga tentang batas antara rasa ingin tahu dan kewaspadaan.

#BukuAnak #DongengRubah #PetualanganHutan #CeritaAnakIndonesia #DutaIlmuKids #PesanMoralAnak #LiterasiAnak