Merenungi keajaiban perjalanan malam Rasulullah SAW melampaui batas-batas langit ketujuh adalah sebuah undangan untuk mempertebal iman dan menyentuh sisi terdalam dari spiritualitas kita sebagai hamba yang merindukan keberkahan Ilahi. Perjalanan Isra' Mi'raj bukan sekadar peristiwa sejarah yang diperingati setiap tahun, melainkan sebuah samudra hikmah yang tak pernah kering untuk digali. Salah satu gerbang paling terpercaya untuk memahami rincian peristiwa agung ini adalah melalui karya monumental Imam Ahmad al-Dardir, yang lebih dikenal dengan sebutan Kitab Dardir Ala Qisshotil Mi'roj. Kini, kehadiran edisi terjemah yang menyatukan teks Arab asli, Jawa Pegon, dan Bahasa Indonesia memberikan dimensi baru dalam melestarikan warisan intelektual ulama salaf sekaligus menjembatani pemahaman generasi masa kini.
Kitab Dardir merupakan syarah atau penjelasan mendalam atas naskah kisah Mi'raj. Imam Ahmad al-Dardir, seorang ulama besar dari mazhab Maliki, menyusun narasi ini dengan gaya bahasa yang menyentuh hati namun tetap berpijak pada riwayat-riwayat yang kuat. Dalam tradisi pesantren di Nusantara, kitab ini menempati posisi istimewa. Pembacaannya seringkali menjadi agenda utama dalam peringatan Isra' Mi'raj, di mana setiap bait dan kalimatnya membawa pendengar seolah ikut menyaksikan setiap fase perjalanan Baginda Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, hingga naik ke Sidratul Muntaha. Edisi khusus yang menyertakan teks Arab, Jawa Pegon, dan Indonesia ini hadir untuk memastikan bahwa keaslian naskah tetap terjaga, sementara maknanya dapat diserap secara luas.
Keberadaan teks Jawa Pegon dalam terjemahan ini adalah sebuah penghormatan terhadap tradisi literasi Islam Nusantara yang sangat berharga. Pegon bukan sekadar aksara; ia adalah simbol adaptasi budaya yang harmonis, di mana nilai-nilai Islam menyatu dengan identitas lokal tanpa menghilangkan esensi aslinya. Bagi para santri, teks Pegon memudahkan mereka dalam memahami struktur gramatikal Arab (nahwu dan sharaf) melalui metode 'makna gandul' yang khas. Sementara itu, kehadiran terjemahan Bahasa Indonesia yang mengalir dan kontemporer membuat kitab ini sangat inklusif bagi masyarakat umum yang ingin menyelami kisah Mi'raj tanpa harus memiliki latar belakang pendidikan pesantren yang mendalam.
Secara substantif, Kitab Dardir memandu kita melalui momen-momen krusial dalam Isra' Mi'raj. Dimulai dari pembelahan dada Nabi Muhammad SAW oleh Malaikat Jibril untuk mensucikan hati beliau, hingga perjalanan kilat menggunakan Buraq. Setiap detail dijelaskan dengan penuh ketelitian, seperti pertemuan Nabi dengan para nabi terdahulu di setiap tingkatan langit. Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi spiritual, melainkan simbol estafet risalah kenabian yang puncaknya ada pada diri Rasulullah SAW. Melalui terjemahan trilingual ini, pembaca dapat meresapi dialog-dialog penuh makna antara Nabi Muhammad dengan Nabi Adam, Nabi Musa, hingga Nabi Ibrahim, yang semuanya memberikan pelajaran tentang kesabaran, kepemimpinan, dan keteguhan iman.
Salah satu bagian paling menyentuh dalam kitab ini adalah ketika Nabi Muhammad SAW menerima perintah salat lima waktu. Dialog antara Nabi Muhammad dengan Allah SWT, serta saran-saran dari Nabi Musa AS untuk meminta keringanan bagi umat, digambarkan dengan sangat dramatis namun tetap sopan dan penuh pengagungan. Di sinilah letak moderasi pemikiran Imam al-Dardir; beliau menunjukkan betapa kasih sayang Allah dan kepedulian Rasulullah terhadap beban umatnya begitu besar. Membaca teks ini dalam bahasa ibu (Indonesia) memperkuat koneksi emosional kita terhadap ibadah salat, menjadikannya bukan sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan ruhani yang lahir dari perjalanan langit yang suci.
Visualisasi dalam Kitab Dardir juga sangat kaya. Penulis mendeskripsikan keindahan Baitul Ma'mur, pohon Sidratul Muntaha yang daunnya selebar telinga gajah, hingga pemandangan surga dan neraka. Dengan adanya teks Arab yang bersandingan, pembaca yang menguasai bahasa Arab dapat langsung merujuk pada diksi asli yang digunakan pengarang, sementara pembaca umum dapat terbantu dengan terjemahan Indonesia yang jernih. Hal ini penting untuk menghindari salah tafsir yang seringkali terjadi jika sebuah teks klasik hanya diterjemahkan sepotong-sepotong tanpa melihat konteks aslinya.
Selain nilai religius, kitab ini memiliki nilai edukasi yang tinggi. Bagi pendidik di lembaga formal maupun non-formal, buku ini dapat dijadikan referensi utama dalam pengajaran sejarah Islam. Struktur trilingualnya sangat efektif untuk metode pembelajaran bahasa (linguistik). Santri dapat belajar menerjemahkan teks Arab ke dalam Pegon, lalu membandingkannya dengan struktur Bahasa Indonesia yang baku. Ini adalah bentuk literasi ganda yang memperkaya kemampuan kognitif sekaligus spiritual siswa. Di tengah gempuran konten digital yang seringkali dangkal, kembali membaca kitab kuning yang diterjemahkan dengan apik adalah upaya untuk menjaga kedalaman berpikir dan kemuliaan akhlak.
Penggunaan bahasa yang moderat dan menyejukkan dalam terjemahan ini juga patut diapresiasi. Penerjemah nampaknya sangat berhati-hati dalam memilih kata agar tidak menimbulkan perdebatan yang tidak perlu, melainkan fokus pada penguatan mahabbah (cinta) kepada Rasulullah SAW. Di era modern yang penuh hiruk pikuk, kisah-kisah mukjizat seperti Isra' Mi'raj seringkali dipertanyakan oleh logika materialis. Namun, Kitab Dardir menjawabnya dengan pendekatan keimanan yang logis dan narasi yang indah, mengingatkan kita bahwa ada realitas di atas realitas materi yang hanya bisa dicapai dengan mata hati (bashirah).
Secara fisik dan teknis, penyajian teks Arab - Jawa Pegon - Indonesia dalam satu volume memudahkan siapa saja untuk mengoleksinya. Ini adalah investasi ilmu yang tidak lekang oleh waktu. Memilikinya di perpustakaan pribadi atau di meja belajar adalah sebuah pengingat akan kebesaran Islam. Kita diajak untuk tidak melupakan akar sejarah, namun tetap mampu beradaptasi dengan bahasa komunikasi saat ini. Kitab ini adalah jembatan antara masa lalu yang mulia dengan masa depan yang penuh tantangan, memastikan bahwa cahaya nubuwah tetap bersinar terang di hati setiap pembacanya.
Sebagai penutup, membaca Terjemah Kitab Dardir Ala Qisshotil Mi'roj bukan sekadar aktivitas kognitif, melainkan sebuah perjalanan spiritual pribadi. Setiap lembarannya adalah ajakan untuk berefleksi: sejauh mana kita telah menghargai perintah salat? Seberapa besar cinta kita kepada Nabi yang telah menempuh perjalanan luar biasa demi keselamatan umatnya? Dengan kemudahan bahasa yang ditawarkan, kini tidak ada lagi alasan untuk tidak mempelajari karya ulama salaf. Semoga dengan hadirnya kitab ini, kita semua mendapatkan limpahan barakah dan semakin teguh dalam menjalankan ajaran agama yang penuh rahmat bagi semesta alam. Mari jadikan literasi kitab salaf sebagai bagian dari gaya hidup kita, demi terwujudnya masyarakat yang cerdas secara intelektual dan matang secara spiritual.
Dengan memahami setiap detail perjalanan Rasulullah SAW melalui kitab ini, kita diharapkan mampu mengambil 'ibrah' untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal kedisiplinan ibadah dan kemuliaan perilaku. Kitab ini adalah kado indah bagi siapa saja yang rindu akan ketenangan batin dan kejernihan pemikiran Islam yang lurus.
